Kebahagiaan Kecil Ikhsanudin di Tengah Riuh IDS Sumatra 2026


TARING.ID – Deru mesin meraung panjang di kawasan Way Handak Expo, Lampung Selatan, Sabtu pagi itu. Asap tipis membumbung dari lintasan drift, disambut sorak penonton yang memadati arena Indonesia Drift Series (IDS) Sumatra 2026.

Di tengah riuh kompetisi dan gegap gempita event otomotif nasional itu, seorang pria tua berjalan pelan sambil menuntun sepeda motornya ke sudut keramaian.

Namanya Ikhsanudin. Usianya 68 tahun. Rambutnya mulai memutih. Kulit wajahnya legam dimakan matahari. Dari Kecamatan Candipuro, ia datang sendirian membawa dagangan sederhana seperti yang biasa ia lakukan setiap hari.

Tak ada yang istimewa dari penampilannya pagi itu. Ia hanya seorang pedagang asongan yang berharap dagangannya laku untuk menyambung hidup.

Biasanya, Ikhsanudin harus menunggu hingga sore hari agar barang jualannya habis. Kadang ia pulang saat matahari mulai tenggelam, dengan tubuh lelah dan keuntungan yang tak seberapa.

Baca Juga :  Tanpa Sekat di Hari Raya, Egi-Zita Salami Warga Satu per Satu di Lamban Rakyat

Namun hari itu berbeda.Belum lama ia tiba di lokasi IDS Sumatra 2026, pengunjung langsung menghampiri lapaknya. Satu per satu dagangannya dibeli. Keramaian terus berdatangan tanpa jeda.

Dalam waktu singkat, barang yang dibawanya ludes terjual. Ikhsanudin tampak terdiam beberapa saat. Wajahnya menahan haru. Mungkin ia sendiri tak menyangka rezeki bisa datang secepat itu.

“Alhamdulillah, terima kasih Pak Bupati. Dengan adanya acara ini saya sangat merasa terbantu sekali. Biasanya saya jualan sampai sore baru habis, tapi hari ini baru datang sudah langsung ludes dagangan saya,” ucapnya lirih.

Suara lelaki tua itu bergetar. Bukan dibuat-buat. Ada rasa syukur yang sulit disembunyikan.

Di tengah hingar bingar mobil drift dan sorotan kamera, kalimat sederhana Ikhsanudin justru menjadi cerita paling manusiawi hari itu.

Baca Juga :  Putri Kalianda Tantang Drifter Nasional di IDS 2026

Sebab bagi masyarakat kecil seperti dirinya, sebuah event besar bukan sekadar tontonan atau hiburan akhir pekan. Event seperti IDS Sumatra adalah peluang hidup.

Ada harapan yang ikut bergerak bersama ramainya pengunjung.

Di sekitar arena, puluhan pelaku UMKM lokal membuka lapak kecil mereka. Pedagang makanan, penjual minuman, tukang parkir, hingga usaha-usaha kecil di sekitar Kalianda ikut merasakan denyut ekonomi yang tumbuh mendadak.

Warung-warung ramai. Jalanan hidup. Orang-orang datang membawa transaksi.

Bagi banyak warga, keramaian itu berarti tambahan penghasilan yang mungkin tak datang setiap hari.

Dan Ikhsanudin menjadi wajah paling nyata dari dampak itu.

Tak ada pidato panjang darinya. Tak ada data ekonomi yang ia pahami. Namun dari senyum kecil lelaki renta itu, masyarakat bisa melihat bagaimana sebuah kegiatan besar ternyata mampu menyentuh lapisan paling bawah.

Baca Juga :  986 Mahasiswa Poltekkes Turun ke 25 Desa, Pemkab Lamsel Dorong Kolaborasi Percepat Program Kesehatan

Ia hanya ingin kesempatan seperti itu hadir lebih sering.

“Sering-sering ya Pak Bupati ngadain acara kayak gini. Ini pasti sangat membantu sekali, apalagi orang seperti saya,” katanya lagi.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di dalamnya ada harapan banyak orang kecil yang menggantungkan hidup pada ramainya sebuah acara.

Menjelang siang, Ikhsanudin akhirnya pulang lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena lelah. Melainkan karena dagangannya sudah habis terjual.

Di tengah ban yang berdecit keras di lintasan drift, lelaki tua itu membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar uang hasil jualan: rasa lega bahwa hari itu hidup terasa sedikit lebih ringan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *