TARING.ID – Oleh ribuan orang, akhir pekan di Way Handak Expo mungkin hanya dikenang sebagai pesta otomotif terbesar yang pernah singgah di tanah Sumatra. Namun bagi sebagian warga Lampung Selatan, suara ban berdecit dan raungan mesin drifting itu terasa lebih dari sekadar hiburan. Ia seperti penanda bahwa daerah ini sedang bergerak menuju cara baru dalam membangun harapan.
Sabtu pagi, 23 Mei 2026, di Kalianda belum terlalu terik ketika antrean kendaraan mulai memenuhi jalan menuju arena Indonesian Drift Series (IDS) Sumatra 2026. Anak-anak duduk di atas pundak ayah mereka. Pedagang kopi sibuk menyeduh minuman sejak pukul tujuh pagi. Di sudut lain, beberapa pelaku UMKM buru-buru menata dagangan karena pembeli sudah berdatangan bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Tak sedikit warga yang awalnya hanya penasaran. Mereka datang karena mendengar ada ajang drifting nasional pertama di Sumatra. Tetapi begitu tiba di arena, yang mereka temukan bukan hanya kompetisi otomotif, melainkan atmosfer yang selama ini biasanya hanya bisa disaksikan lewat televisi atau media sosial.
Asap tipis dari ban yang terbakar bercampur sorak penonton menciptakan suasana yang asing sekaligus membanggakan bagi warga sekitar. Way Handak, yang biasanya tenang, mendadak berubah menjadi lautan manusia.
Di tengah gegap gempita itu, satu hal justru paling banyak dibicarakan: acara sebesar ini tidak memakai uang APBD sepeser pun.
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, memilih jalan yang tidak biasa. Ia tidak membebankan pembiayaan event kepada kas daerah. Seluruh kegiatan digerakkan lewat kolaborasi dengan pihak swasta, komunitas, media, hingga berbagai stakeholder lain.
“Untuk event ini tidak menggunakan APBD sama sekali. Dan khusus masyarakat Lampung Selatan, kita gratiskan,” ujar Egi di sela kegiatan.
Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya terasa nyata di lapangan.
Bagi Riki, warga Katibung berusia 30 tahun, akhir pekan itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Ia datang bersama dua temannya sejak pagi hanya untuk melihat langsung pembalap favorit yang biasanya ia tonton lewat internet.
Di tribun penonton, matanya nyaris tak lepas dari lintasan. Sesekali ia berdiri saat mobil-mobil drift berputar ekstrem di tikungan tajam. Namun yang membuatnya paling terkesan justru bukan aksi pembalap.
“Biasanya acara begini mahal. Kami cuma bisa lihat di media sosial. Tapi sekarang bisa nonton langsung, gratis lagi,” katanya sambil tersenyum.
Di sisi lain arena, keberuntungan juga sedang menghampiri para pelaku usaha kecil.
Siska, penjual minuman ringan di sekitar lokasi acara, mengaku dagangannya habis lebih cepat dibanding hari-hari biasa. Bahkan sejak Jumat malam, suasana Kalianda sudah jauh lebih ramai dari biasanya.
Hotel-hotel penuh. Rumah makan dipadati pengunjung. Lapak UMKM nyaris tak pernah sepi.
“Biasanya jam segini sudah mulai sepi. Ini malah tambah ramai terus,” ujarnya sambil melayani pembeli.
Fenomena itu diamati langsung oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdakab Lampung Selatan, Tri Umaryani. Menurutnya, IDS bukan hanya soal olahraga otomotif, tetapi momentum ekonomi yang bergerak cepat dalam waktu singkat.
Hunian hotel meningkat drastis. Perputaran uang di sekitar lokasi ikut melonjak. Aktivitas wisata mendadak hidup hanya dalam dua hari penyelenggaraan.
Yang menarik, keberhasilan itu lahir bukan dari kekuatan anggaran besar, melainkan dari keberanian membangun jejaring kerja sama.
Pemerintah daerah bertindak sebagai penghubung. Swasta melihat peluang pasar. Komunitas bergerak membantu. Media ikut mengangkat gaung acara. Semua bekerja dalam pola kolaborasi yang selama ini sering disebut sebagai pentahelix, tetapi jarang benar-benar terasa dampaknya secara langsung di masyarakat.
Di tengah kondisi banyak daerah yang masih bergantung penuh pada anggaran pemerintah, Lampung Selatan mencoba menunjukkan pola berbeda. Bahwa membangun daerah tidak selalu identik dengan menguras kas negara.
Ada pendekatan lain yang lebih lentur: membangun kepercayaan, mempertemukan kepentingan, lalu menggerakkan energi bersama.
Menjelang sore, suara drifting perlahan mereda. Matahari turun di balik perbukitan Kalianda. Tetapi keramaian belum juga bubar. Anak-anak masih berfoto di sekitar lintasan. Pedagang masih sibuk melayani pembeli. Dan sebagian warga tampaknya masih belum percaya bahwa semua itu bisa mereka nikmati tanpa membeli tiket.
Di antara asap ban dan riuh tepuk tangan, Way Handak akhir pekan itu seolah sedang menyampaikan satu pesan sederhana: ketika kreativitas bertemu keberanian mengambil langkah, sebuah daerah kecil pun bisa menghadirkan panggung besar bagi rakyatnya sendiri. (*)








